Banner
Statistik
  Visitors : 135423 visitors
  Hits : 110171 hits
  Today : 99 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

hefriasra@gmail.com    

JUJUR TELAH HANCUR

Tanggal : 26-03-2012 10:01, dibaca 659 kali.

JUJUR TELAH HANCUR
Dion Eprijum Ginanto*


Para pembaca masih ingat dengan kasus Ny. Siami yang diusir ratusan warga karena melaporkan guru SDN Gadel yang memaksa anaknya AL, memberikan contekan pada teman-temannya saat UNAS pada 10-12 mei 2011 lalu? Kita semua hanya bisa “melongo” menjadi saksi fenomena runtuhnya budaya jujur di negeri ini. Kasus ini merupakan satu dari banyaknya kasus yang telah membuktikan bahwa kejujuran telah menjadi mayat dan terkubur di pusara Indonesia.
Memang sih tidak semua bangsa Indonesia yang anti-pati dengan kata jujur, namun toh kita juga tidak mampu membela mereka yang tertekan dan bahkan dizolimi atas tindakan mulia mereka. Kita juga tidak mampu mencegah ketidakjujuran itu terjadi, bahkan kita hanya bisa berkata ala presiden “Saya Prihatin”. Itu saja, yah hanya itu. Yang lebih menyakitkan lagi adalah, kita hanya mampu menyaksikan para politisi angkuh yang memimpin kita, yang jelas-jelas ketahuan tidak jujur malah kemudian dipuja dan mendapatkan posisi yang tinggi dinegeri ini.
Drama pejabat yang menjadi saksi atau tersangka dalam kasus korupsi yang marak kita lihat di media akhir-akhir ini telah cukup membuktikan bahwa mereka akan melakukan apa saja agar mereka selamat, termasuk memberikan kesaksian palsu. Merekakah politisi yang selau gembar-gembor di media “Katakan tidak pada korupsi” tetapi ketika banyak fakta yang meyudutkan mereka dan mengarah pada sinar terang bahwa mereka terlibat, kemudian mereka merubah slogan mereka dengan “Katakan tidak pada kejujuran”. Sungguh meyakitkan. Atau yang lebih mencolok mereka akan pura-pura lupa, dan berkelit atas tindakan yang nyata-nyata telah ia lakukan sendiri. Sungguh benar kata ketua KPK, jika semua pelaku kejahatan di Indonesia ini jujur, maka tak akan mungkin penjara di Indonesia mampu menampung mereka.
Apakah Jujur telah hancur?
    Virus anti kujujuran telah menyebar ke mana-mana, mulai dari pejabat tingkat tinggi, hingga anak –anak sekolah dasar. Mulai dari pejabat tingkat RT hingga pejabat tertinggi di negeri ini. Mulai dari yang miskin sekalipun hingga yang terkaya. Berikut beberapa fenomena yang telah membuktikan bahwa Kejujuran telah runtuh di negeri ini.


1.    Kantin Kejujuran – Tinggal Nama
Kantin kejujuran yang dicanangkan kejakasaaan agung tahun 2007 untuk melatih dan membiasakan peserta didik berlaku jujur- mengambil dan membayar sendiri barang yang dibeli, tampaknya tinggal nama belaka. Entah apa yang menyebabkan kantin ini tak lagi beroperasi. Mungkin masih ada beberapa yang masih exist, tapi boleh sama-sama kita buktikan bahwa pasti lebih banyak kantin kejujuran yang gulung tikar ketimbang yang masih berjaya.  Penyebab kantin kejujuran ini berguguran ada dua penyebabnya, pertama karna manajemennya yang kurang apik; atau pembelinya yang tidak pernah mau membayar. Akan tetapi dari beberapa kasus kelihatannya kasus pembeli yang tidak jujur yang lebih menonjol. Web belajarpintar.blogspot.com menuliskan bahwa sejak dicanangkan hanya tinggal 20% kantin kejujuran yang masih beroperasi. Dari kantin yang ditutup diketahui bahwa barang-barang yang dijual habis namun uang yang terkumpul tidak sama dengan barang yang terjual. Ini menandakan bahwa pembeli tidak membayar setelah mengambil barangnya. Fenomena ini tidak boleh dibiarkan, Kantin kejujuran harus tetap ada dan dibangkitkan kembali. Harus ada evaluasi menyeluruh untuk kantin kejujuran ini, karna sejak pertama dicanangkan oleh kejaksaan agung, hingga kini belum ada evaluasinya. Bukan berarti kejaksaaan agung harus kembali terjun ke setiap sekolah untuk mengevaluasinya; cukup seluruh elemen sekolah bahu membahu untuk mengevaluasi dan menghidupkan kembali kantin ini. Karena kantin kejujuran adalah salah satu cara nyata yang tidak sebatas teori yang bisa dipraktekkan langsung oleh siswa, maupun pegawai. Kantin Kejujuran tidak boleh hanya Tinggal Nama.

2.    Seleksi CPNS Jujur – Rasanya Sulit

Saya sendiri hampir menjadi korban praktek suap menyuap dalam proses seleksi ketika saya mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu kabupaten di propinsi Jambi. Saat itu saya dihubungi via telefon yang mengaku sebagai orang dekat bupati. Saya diiming-imingi akan lulus seleksi PNS namun harus memberikan sejumlah uang. Saat itu ia meminta saya Rp. 45 juta. Saya sangat tersinggung dengan tawaran dari oknum pejabat daerah tersebut, sehingga saya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Karna saya meyakini saya tidak akan lulus di kabupaten tersebut, dan akhirnya saya memilih kabupaten lain untuk mengikuti seleksi CPNS, dan Alhamdulillah lulus tanpa harus mengeluarkan biaya utnuk menyuap. Dulu saya selalu menganggap bahwa isu suap-menyuap adalah ungkapan bagi peminat CPNS yang tidak lulus seleksi. Saya dulu beranggapan bahwa Suap-menyaup hanyalah alibi untuk menutupi alasan agar tidak malu karena tidak lulus seleksi CPNS. Tetapi setelah mengalami sendiri, saya pun menyimpulkan bahwa kasus suap-meyuap dalam seleksi CPNS memang benar-benar ada.

Lagi-lagi dalam kasus ini, kita tidak berdaya dalam menguak fenomena ketidak jujuran. Untuk kasus saya yang dimintai Rp. 45 juta, saya sempat merekamnya di handphone teman saya, namun saya lupa untuk memindahkan dan menyimpan file rekaman percakapan saya dengan oknum yang mengaku dekat dengan pejabat. Hingga akhirnya file tersebut terhapus karena terkena virus handphone. Saya pun akhirnya tak bisa melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib karena tidak mempunyai bukti.

Inilah mengapa kasus suap menyuap CPNS jarang sekali terungkap. Karena orang yang menyuap dan disuap tidak pernah membuat bukti hitam di atas putih saat transaksi berlangsung. Juga, tidak mungkin saat transaksi membawa beberapa orang yang dapat dijadikan saksi untuk dapat dilaporkan ke kantor polisi. Alasan lain mengapa kasus ini tak terungkap, karena tak mungkin sang pemberi suap melapor, karena jika toh terbukti,terbukti yang memberi dan yang diberi suap kedua-duanya akan dibui. Sungguh ironis negeri ini, rasanya sulit untuk menciptakan budaya jujur dalam penerimaan PNS.

3.    Politisi Jujur – Masih Ada ya?
Pembaca mengikuti kasus persidangan Angelina Sondakh ketika menjadi saksi pada sidang Nazaruddin? Banyak media yang membeberkan kesaksian yang diduga palsu tersebut. Bukan hanya kalangan media yang menyoroti, bahkan banyak gadis-gadis cantik yang melakukan demonstrasi untuk mendorong agar Angelina Sondakh memberikan kesaksisan apa adanya dengan jujur. Yang sangat mencolok dalam kesaksian Angie (sapaan akrab politisi cantik mantan Putri Indonesia) adalah ketika ia menyangkal kepemilikan Blackberry. Angie mengaku bahwa baru mempunyai BB akhir tahun 2010.  Padahal banyak sekali foto-foto yang tertangkap saat Angie memegang Blackberry sebelum tahun 2010. Parahnya lagi Ia sampai sekarang belum ditahan dan malah bisa bebas melenggang di DPR RI.
Kasus politisi lain juga serupa, ketika menjadi saksi atau tersangka dalam sebuah kasus. Saat ditanya kedektanannya dengan seseorang yang terbukti bersalah, maka mereka akan menyangkalnya. Mereka pasti akan mengatakan tidak mengenal Si-A, si B dll. Padahal sudah nyata-nyata kesaksian dari beberapa orang bahwa ia juga terlibat dalam kasus tersebut. 
Belum lagi kasus politisi-politisi lain, yang ketika kampanye membeikan janji-janji manis, namun setelah terpilih tak pernah menyambangi daerah yang dulu pernah ia datangi untuk mengemis suara. Banyak sekali politisi di Indonesia yang menggunakan modal BOHONG dengan mudahnya melenggang menjadi pejabat publik di negeri ini.
Kalau melihat tingkah laku para politisi pemimpin di negeri ini, MASIH ADA GAK YA POLITISI YANG MASIH JUJUR?

4.    Ujain Nasional Jujur- Masih Sebatas Angan-Angan

Tidak lama lagi siswa-siwi di seluruh Indonesia mengikuti perhelatan akbar untuk menentukan kelulusan. Tentu tujuan utama ujian akhir nasional adalah sangat mulia, yakni mengukur kemampuan siswa seluruh Indonesia yang nantinya dapat dijadikan sebagai barometer evaluasi keberhasilan pendidikan di Republik ini. Akan tetapi, ternyata niatan tulus UN banyak disalah artikan baik itu dari pemerintah daerah, dinas terkait, guru dan siswa itu sendiri. Entah apa yang dilakukan oleh siswa atau pun guru, tetapi yang jelas nilai-niali UN siswa sangatlah tinggi. Bahkan sangat mudah ditemukan nilai murni UN mereka yang mendapatkan 100. Apa iya siswa di pelosok desa yang tidak mempunyai fasilitas pendidikan dan guru yang memadai bisa mendapatkan nilai matematika 90 atau 100? Apa mungkin yang dalam keseharian tidak mengerti bahasa Inggris, tiba-tiba di UN mendapat 95? Bukannya saya mengunderestimate mereka, tetapi untuk nilai 100 nampaknya mustahil bagi siswa di pedesaan. Jika sejak sekolah siswa diajarkan untuk tidak jujur oleh semua pihak bahkan terkesan direstui oleh pemerintah pusat, bagaimana mungkin Korupsi di Indonesia akan lenyap. Saya yakin pemerintah pusat paham dan mafhum bahwa UAN yang menjadi proyek bagi mereka di lapangan tidak berjalan dengan jujur, tapi kok tidak ada kemuan bagi mereka untuk tidak lagi menjadikan UN sebagai barometer kelulusan siswa.

Lagi-lagi kita hanya bisa menyaksikan kejanggalan di bumi pertiwi, dan kita tak berdaya untuk merubahnya. Mungkinkah suatu saat nanti kita bisa melihat seluruh siswa di Indoensia mengerjakan UN dengan JUJUR? Atau ini cuman sebatas ANGAN-ANGAN?

Secuil fenomena di atas tidak lah cukup untuk mewakili betapa kejujuran di negeri ini sudah mulai terkikis dan tak lama lagi akan hancur, karena saking banyaknya kasus-kasus yang menggambarkan jujur tak lagi penting. Jika tidak ada aksi nyata untuk melenyapkan penyakit akut ini, saya khawatir kita akan mengalamai kasus seperti halnya di hutan rimba; yang kuat akan terus menindas yang lemah. Tapi pasti di balik semua kebuntuan, pasti akan ada celah kecil untuk kita keluar dari semua keterpurukan ini. Biarlah orang lain tidak jujur, tugas kita hanya mengingatkan kepada mereka. Jika mereka tetap saja hobi berbohong, biarlah nanti mereka yang akan menerima akibatnya. Yang jelas kita harus meyakinkan pada diri kita sendiri bahwa kita harus jujur.

Seiring bersatunya tokoh-tokoh lintas agama yang menuntut pemerintah untuk tidak berbohong, merupakan titik terang untuk menyongsong Indonesia yang lebih Jujur. Musuh bersama di negeri ini kelihatanya harus bertambah, selain kemiskinan dan kebodohan, ketidakjujuran harus ditambah pada daftar common enemy di negeri yang terkenal dengan kearifan budayanya ini.
Ke depan kita berharap, tak pernah ada lagi terdengar di telinga bahwa orang yang jujur dianggap sok suci, sok menjadi pahlawan atau sok paling baik, dst. Tapi secara perlahan menjadikan budaya jujur kembali terpatri dan tertanam kokoh di hati sanubari kita. Jadikan Kejujuran sebagai pondasi Indonesia. Skema terbaik untuk kembali menamkan kejujuran adalah dari rumah, kemudian sekolah dan yang terakhir adalah masyarakat. Mari bersama menciptakan KELUARGA JUJUR, SEKOLAH JUJUR dan MASYARAKAT YANG JUJUR. Somoga tak ada lagi slogan: Jujur Telah Hancur….

Dion Eprijum Ginanto
*Supervisor di Batanghari Foundation dan Mengajar di SMA 1 Batanghari, Jambi



Pengirim : Dion Eprijum Ginanto


Share This Post To :

Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Komentar FB
Komentar Standar

Komentar Melalui Facebook :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : custynonZoott -  [bvcvbfdgfc@gmail.com]  Tanggal : 19/02/2014
dress up doctor who <a href=http://adderall.webpaper.co/>buy adderall without a prescription</a> texas a&m college of medicine

Pengirim : Erni Mawarni -  [ernimawarni@ymail.com]  Tanggal : 01/04/2012
Mulailah kejujuran dari diri sendiri !

Pengirim : Arie Satria -  [arie_satria@hotmail.com]  Tanggal : 29/03/2012
segala sesuatu yang buruk dan untuk mementingkan kelompok/individu pasti Allah akan memperlihatkan

Pengirim : Diga Adrian -  [digaenjoy@yahoo.com]  Tanggal : 29/03/2012
Kejujuran memang sangat-sangat penting, tetapi sulit untuk menegakkannya.
mungkin itulah manusia.
siapa yang imannya kuat, dialah yang mudah menegakkan kejujuran..

Pengirim : cahya natalisa er -  [chaichh@ymail.com]  Tanggal : 29/03/2012
jujur memang susuh untuk diterapkan oleh sebagian orang,tapi jika ada niat tulus dalam diri jujur bukan tantangan berat

Pengirim : dian rafiah -  [dian_rafiah@yahoo.com]  Tanggal : 29/03/2012
kejujuran harus di tanamkan dalam setiap individu.

agar indonesia ini menjadi lebih baik

Pengirim : Datu Ridha Siahaan -  [Tipudaya_girls@yahoo.co.id]  Tanggal : 29/03/2012
sekarang jujur itu memang sudah langka sekali
susah sekali menemukan orang yang jujur di zaman ini
beruntung sekali karena saya masih dapat bersikap jujur :)

Pengirim : Dewi Maharani -  [rani.doet@yahoo.co.id]  Tanggal : 29/03/2012
Kejujuran harus di mulai dari yang terkecil.

Pengirim : elsa renata putri -  [caca.marica41@yahoo.co.id]  Tanggal : 29/03/2012
saya setuju bahwea perenyataan jujur telah hancur benar adanya . karna bnyak dimana mana yang masih tidak jujur

Pengirim : Bahtiar adi noto -  [adicholic@ymail.com]  Tanggal : 29/03/2012
jujur adalah hal yang paling susah dilakukan.obatnyapun tak ada? tetapi selalu ada hikmah di balik kejujuran itu.


   Kembali ke Atas