Banner
Statistik
  Visitors : 135423 visitors
  Hits : 110178 hits
  Today : 99 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

hefriasra@gmail.com    

WARMER, FILLER DAN COOLER (W,M,C) CARA MUDAH MEMIKAT SISWA

Tanggal : 26-03-2012 10:14, dibaca 543 kali.


DION EPRIJUM GINANTO*


    Disadari atau tidak, tugas seorang guru adalah mirip seperti penjual obat. Keberhasilannya dalam memikat pembeli merupakan kunci utama dalam sukses atau tidaknya menjual obat. Begitu juga seorang guru; guru harus mampu tampil menarik dengan menggunakan variasi gaya agar sang murid tidak bosan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Fakta membuktikan, ketertarikan seorang murid pada guru akan membimbingnya untuk tertarik dengan mata pelajaran tertentu. Saya sendiri semisal, dari SMP hingga SMA kelas X saya sama sekali tidak tertarik dengan mata pelajaran bahasa Inggris. Namun, ketika saya naik di kelas XI saya diajar oleh seorang guru yang berasal dari Bali (Bapak I Ktut Cidra) beliau mampu menyihir saya, sehingga saya hingga saat ini mencitai mata pelajaran bahasa Inggris.
    Hingga saat ini, saya mengajar dengan metode dan pendekatan hampir sama dengan guru saya tersebut. Dan banyak sekali metode pangajaran yang sengaja saya tiru dari guru saya, dan benar sekali murid-murid sangat mencintai saya dan pelajaran saya. Metode pangajaran tersebut ternyata sama dengan metode pengajaran bahasa Inggris pada siswa pengguna bahasa  kedua (Teaching English as a Second Language) di Asutralia dan New Zealand. Saya pernah ke Australia dan New Zealand, di dua Negara tersebut ada banyak sekali siswa-siswi asing yang belajar bahasa Inggris di sana, dan mereka mempunyai kesamaan dalam hal metode dan pendekatannya, dan itu memang terbukti sangat sukses.
    Metode pangajaran itu adalah Warmer, Filler dan Cooler (WMC).  Selama dua bulan saya belajar di New Zealand melalui program yang murni menggunkan APBD daerah Jambi, saya dan empat belas orang guru dari Jambi diajari bagaimana membuat suasana kelas begitu menarik, Warmer, Filler dan Cooler (WMC) adalah kuncinya. Warmer dalam bahasa Indonesia adalah pemanasan, filler adalah pengisi, Cooler adalah pendinginan .
1.    Warmer (pemanasan)
Pemanasan bukan hanya dilakukan saat kita akan berolah raga saja, namun proses pengajaran pun harus menggunakan pemanasan. Terkadang kita sebagai guru sering terjebak dengan RPP, Silabus dan Kurikulum, sehingga di dalam kelas yang kita lakukan hanya sekedar mengajar dengan target menyelesaikan materi dalam kurikulum. Saking asyiknya kita dalam mengejar target, kita pun mengabaikan kondisi murid yang terkadang belum siap mengikuti pelajaran kita.
Logikanya, dalam berolah raga semisal bermain sepak bola, seorang pelatih dengan serta merta langsung menerjunkan pemain ke lapangan untuk menghadapi pertandingan, tanpa pemanasan terlebih dahulu. Kita pasti bisa memastkan para pemain dalam hitungan menit akan keram dan cidera otot, dikarenakan mereka belum siap untuk itu. Kendaraan pun demikian, sebelum dipakai dianjurkan agar dipanasi terlebih dahulu agar tidak macet di tengah jalan.
Warmer is often used to raise students’ energy levels or to make them feel comfortable (Spratt: 2005).  Warmer sering digunakan untuk meningkatkan energi siswa atau agar mereka merasa nyaman sebelum belajar. A warmer is an activity at the start of the class to warm up the learners. They tend to be short, dynamic activities. Warmers can be compared to coolers, which are short activities to finish the class (www.teachingenglsih.org.uk). Warmer adalah sebuah aktivitas pada permulaan kelas untuk memanaskan siswa/ pemanasan untuk siswa. Warmer biasanya pendek dan bentuk aktivitasnya dinamis. Perbedaan dengan cooler adalah, cooler digunakan untuk diakhir kelas.
    Dari beberapa pengertian di atas warmer (pemanasan) dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk diterapkan di kelas. Warmer bisa di dalamnya terdapat aktivitas yang dinamis (bergerak: pindah posisi duduk, pindah partner kelompok, dll), Game/permainan (permainan ini biasanya didisain yang sesuai dengan mata pelajaran, misalnya jika kita belajar bahasa Inggris dapat menggunakan permainan vocabulary, atau kalau kita mengajar matematika, fisika,  kimia kita bisa menggunakan permainan tebak-tebakan rumus.
    Ada sebagian guru yang memberikan pendapat bahwa GAME sangat tidak berguna, karena dapat membuat siswa malas belajar dan semacam ketergantungan terhadapnya. Selain itu, ada juga yang beranggapan bahwa untuk mengajar dengan menggunakan game, sangat sulit. Saran saya, perbanyaklah literatur tentang permainan-permainan dalam mengajar. Saya dapat memberikan jaminan, murid yang dulunya malas untuk belajar, akan berubah menjadi energik dan termotivasi.    



2.      Filler / Ice Breaker (pengisi waktu/pemecah batu es)

Ada kalanya ketika kita mengajar, di tengah-tengah pelajaran murid merasa jenuh dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Murid terkadang tidak mau lagi mengikuti pelajaran kita; karena berdasarkan penelitian siswa hanya dapat berkonsentrasi kurang lebih 20 menit saja. Lalu, setelah 20 menit, berarti murid akan jenuh dan mulai sibuk melakukan aktivitas lain, akibatnya guru akan diabaikan.
    Solusinya sangatlah mudah, ketika kita tiba-tiba melihat ekspresi wajah murid yang mulai mengkerut, gerakan tubuh yang sudah tidak mulai terkendali, mulai terdengar suara-suara bising. Maka guru harus melakukan ice breaker. Ice breaker dalam bahasa Indonesia berarti pemecah es. Ice breaker atau filler dapat kembali merubah suasana jenuh menjadi semangat kembali.
    Contohnya, anda bisa menyuruh murid melakukan gerakan-gerakan kecil di dalam kelas. Gerakan-gerakan kecil dapat berupa: senam otak, gerakan-gerakan bebas untuk peregangan otot, siswa berpindah tempat duduk, memijit kawan sebangku (tentunya yang bukan lawan jenis). Guru juga bisa melakukan yield-yield atau terikan-teriakan penyemangat. Dan yang tidak kalah pentinya adalah anda dapat melakukan Game-game ringan dan atau membuat cerita-cerita lucu/ tebakan lucu.
Untuk membuat tebakan lucu memang tidak sulit, namun ketika kita berhasil memberikan tabakan lucu dan murid tidak bisa menjawab maka mereka akan sangat tertaik; sehingga siswa yang tadinya tidak mendengarkan kita menjadi kemabli antusias. Contoh tebakan lucu: anda menanyakan kepada murid; ”Mengapa Pangeran Diponegoro memakai Surban?” Pasti murid akan berpikir dan mencoba memberikan jawaban, biarkan untuk beberapa saat mereka memberikan jawaban salah kepada Anda. Dan ketika mereka sudah menyerah barulah Anda memberi jawaban: ”Karena Pangeran Diponegoro naik Kuda, coba kalau beliau naik motor pasiti akan pakai HELM.” 

3.    Cooler (Pendinginan)

Dalam senam, pasti akan ada gerakan pendinginan. Tujauan utama dari kegiatan pendiningan ini adalah agar badan tidak terkejut ketika nantinya kegiatan senam usai. Begitu juga dalam belajar, pendingian dapat mendinginkan mesin yang sudah panas,. Dalam artian, otak yang tadinya panas karena menerima pelajaran dari kita, maka untuk membuat otaknya kembali fresh perlu dilakukan relaksasi.  Mengajar tidak harus selalu serius, namun harus diringi dengan kegiatan-kegiatan positif sehingga dapat membuat daya tahan siswa di kelas meningkat. Saat ini bisa dibayangkan betapa padatnya kegiatan siswa: pagi hingga siang belajar di sekolah, sore hingga menjelang malam Les privat atau les di Bimbel,dan malam harinya mengerjakan PR, pertanyaannya kapan mereka bermain?
Cooler dan kegiatan-kegiatan sebelumnya (warmer dan filler) dapat mengurangi kepenatan siswa di sekolah. Seperti yang saya tuliskan di atas cooler mempunyai kesamaan dengan warmer. Bedanya, warmer dilakukan di awal pertemuan, tetapi cooler dilakukan di akhir pelajaran. Kegiatan ini bisa divariasikan, misalnya guru memberikan tebak-tebakan ringan dan bagi siswa yang bisa menjawab dapat terlebih dahulu meninggalkan kelas (ini jika berada di jam terakhir). Atau jika tidak, bagi siswa yang dapat menjawab bisa kita berikan reward, misalnya penambahan nilai dan atau yang paling membuat siswa senang dan sering dipraktekkan oleh guru-guru di Australia adalah dengan memberikan permen/cokelat.

Warmer, Filler dan Cooler (WFC) belum banyak dipraktekkan oleh guru-guru di Jambi dan mungkin di Indonesia. Jika selama ini kita mengajar hanya lempeng-lempeng saja, tidak ada salahnya kan untuk mencoba resep ini? Karena metode WMC ini sudah dibuktikan keberhasilannya di negara maju semisal Australia dan New Zealand. Sekali lagi, tugas guru bukan hanya menyampaikan materi dan mengejar target RPP atau prota, namun lebih kepada kemampuan murid dalam menyerap pelajaran yang kita sampaikan dengan perasaan senang.
Selamat mencoba, saya yakin jika Anda dapat melakukannya dengan baik anda akan menjadi guru yang selalu dinantikan kedatanganya oleh murid-murid di kelas. Jangan pernah malu untuk membuka buku dan web di internet, karena dengan membaca dan belajar kita akan selalu meningkat potensinya bukan sebaliknya. Jangan heran jika semua siswa terpikat dengan cara anda dalam mengajar. Terakhir, jadilah guru pertama yang mempraktekan metode ini di sekolah Anda.

*) Penulis adalah Guru Bahasa Inggris di SMA N 1 BATANG HARI dan Supervisor Batanghari Foundation



Pengirim : Dion Eprijum Ginanto


Share This Post To :

Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Komentar FB
Komentar Standar

Komentar Melalui Facebook :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : Febridawati Asmi -  [febridawatiasmi@rocketmail.com]  Tanggal : 30/03/2012
Keren!!!
Semoga Kita bisa mengadi guru yang membanggakan, menjadi teladan dan motivasi bagi siswa kita, sehingga kedatangan kita selalu dirindukan oleh siswa..amin

Pengirim : abadi badi -  [abadi badi@gmail.com]  Tanggal : 29/03/2012
saya terharu pak dion langsung suka b.inggria n mnjdi pintr b.ingrs,sebelumnya pak dion tidak suka brb.inggris


   Kembali ke Atas